Selasa, 15 Juli 2014

Janji Burung Pipit: Sayap

"bagaimana kalau suatu saat kelak kita membangun rumah sakit kita sendiri?". Pernyataan Aan tiba tiba memecahkan suasana.
"ha? Rumah Sakit??" Ega mencoba mencerna kata kata Aan barusan.
"iya, suatu saat ketika aku sudah ahli di bidang farmasi, Anggi berhasil dengan karir keperawatan nya, dan chynthia juga telah menjadi bidan yang ahli, saat itu kita buat rumah sakit kita sendiri dengan kamu sebagai dokternya, seperti janji kita dulu" Aan mencoba menjelaskan.
"ohh, janji untuk burung pipit yang kalian tolong waktu kalian masih kecil itu" tambah Chynthia.
"tapi apakah aku bisa jadi dokter dengan kondisi ekonomi keluargaku yang sekarang?" muka Ega kembali murung.
"tenang.. kan masih ada jalur undangan dari universitas". Pernyataan Anggi membuat suasana kembali mencair. dan mereka kembali dengan pelajaran mereka ketika bel masuk tiba tiba berbunyi.
....

Ada kalanya ketika kedua kaki kita ini hanyalah sampah saat mereka tak bisa digunakan untuk melangkah. Saat kita telah berusaha tapi takdir memaksa kita untuk menyerah. Ketika itu kita mecoba terbang dengan sayap sayap yang mulai tumbuh tapi badai dasyat tiba tiba datang dan kita hanya mengurungkan niat.


Ega terduduk di sebuah hall yang sangat besar. Di sekelilingnya, teman-temannya sedang ribut sendiri dengan candaan mereka masing masing, sebagian lagi memperhatikan moderator yang sedang membacakan susunan acara di atas mimbar. Tampak jelas kebahagiaan dari raut wajah mereka yang sangat kontras sekali dengan raut wajah Ega yang tak menentu.

Pikiran Ega kembali melayang. Mengaburkan suasana sekitar menjadi kabut kabut tebal, dan membawanya ketempat dimana semuanya mulai berubah.

Pagi itu Ega menyusuri trotoar layaknya seekor keledai yang kegirangan. Dia menyapa setiap orang yang dia kenal sambil mengumbar senyuman. Hari itu merupakan hari istimewa bagi Ega, karena hari itu adalah hari pertamanya mengikuti Ujian Nasional. Sebuah hari yang menurut sebagian orang adalah momok, karena dihari itu masa depannya akan ditentukan. Tetapi entah mengapa pada saat itu Ega sangat percaya diri dengan kemampuannya. Mungkin karena menurutnya dia telah menguasai semua materi yang akan keluar, atau karena dia yakin bahwa rasa percaya dirinya itu akan menjadi modalnya untuk menghadapi Ujian Nasional.

Di ujung trotoar Ega melihat seorang kakek tua sedang memandangi jalan sambil tersenyum. Akhir akhir ini Ega memang sering melihat kakek itu duduk-duduk di pinggir trotoar, tapi Ega tidak pernah mempedulikannya. Ketika Ega sedang melangkah tepat di belakangnya, tiba tiba si kakek berkata “berhati-hatilah dengan langkahmu nak.”

Sontak, Ega pun kaget dan menghentikan langkahnya. Dia terheran heran dengan perkataan si kakek “kakek bicara dengan saya?”

Sang kakek pun melanjutkan, “aku telah melihat banyak sekali kejadian di jalanan. Ada beberapa alasan mengapa mobil-mobil itu tiba-tiba berhenti di jalan. Pertama karena lampu merah itu” si kakek menunjuk traffic light di persimpangan jalan, “Kedua karena mogok atau kehabisan bahan bakar, dan yang terahir karena menabrak seseorang” sang kakek pun terkekeh-kekeh sambil terus memandangi jalanan.

Ega kemudian berlalu tanpa menghiraukan si kakek dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Dia hanya berfikir mungkin kakek tadi orang gila.
....


Bel sekolah akhirnya berbunyi nyaring, tanda ujian telah selesai. Hari ini adalah hari terahir Ujian Nasional, hari dimana banyak diwarnai berbagai macam curahan perasaan. Di ujung lorong banyak siswi yang menangis, sedangkan di sisi lain anak anak yang ikut bimbingan belajar merasa tenang-tenang saja, seolah mereka baru menyelesaikan soal yang begitu mudah.

Ega hanya tertunduk lesu menelusuri trotoar menuju ke rumah. Kepercayaan dirinya kian hari kian berkurang. Entah kenapa soal Ujian Nasional tahun ini sangat sulit, berbeda sekali dengan soal soal tahun sebelumnya.

Di suatu toko, Ega tak sengaja melihat siaran di televisi. Dia menyaksikan Menteri Pendidikan yang sedang di wawancarai perihal Ujian Nasional tahun ini yang ternyata melenceng dari standar materi yang disiapkan oleh setiap sekolah. Sang Menteri pun dengan santai mengatakan “sebenarnya ujian tahun ini adalah ujian bertaraf internasional, saya kira bagi siapa saja yang belajar dengan giat bisa menyelesaikannya dengan mudah.”

Ega pun tercengang mendengar pernyataan dari bapak menteri. Ingin rasanya dia menghampiri bapak Menteri dan memaki maki di depanya. Tapi dia hanya mengurungkan niat dan pasrah akan apa yang telah dia usahakan.

Sebulan kemudian saat pengumuman kelulusan, semua siswa berteriak mengekspresikan kegembiraan mereka. Pada hari itu tak ada yang tak merasa bahagia karena kelulusan mereka semua. Tetapi entah kenapa Ega hanya terduduk lemas memandangi nilai Ujian Nasionalnya yang baginya dirasa kurang memuaskan. Sedangkan teman sekelas yang menurutnya biasa biasa saja, entah kenapa nilainya bisa bagus. Dan menurut kabar angin, mereka yang mampu membeli soal dari salah seorang oknum lah yang mendapat nilai bagus. Entah benar apa tidak Ega hanya pasrah menerimanya.

Hal ini berlanjut pada seminggu kemudian, saat pengumuman jalur undangan dan beasiswa BIDIKMISI. Tenggorokannya tercekat seketika tak bisa bernafas ketika melihat namanya tak lolos jalur undangan.
....


Berbagai emosi sekaligus penyesalan mengiringi langkahnya pulang. Menurutnya dunia ini hanya tak adil kepadanya. Hanya mereka yang memiliki uang lah yang bisa berkuasa di dunia ini. Terkadang Ega iri kepada burung burung yang selalu bisa terbang bebas di angkasa tanpa adanya beban sama sekali.

Di ujung trotoar seperti biasa Ega melewati kakek gila yang selalu tersenyum memandangi jalanan. Setelah sekian lama kali ini si kakek gila itu membuka mulutnya dan kembali berceloteh, “akhir akhir ini aku menemukan cara agar tidak tertabrak mobil yang lewat” si kakek berhenti sejenak lalu melanjutkan tanpa memalingkan tatapan kepada Ega, “mobil mobil itu tidak akan menabrak benda yang berada diatasnya. Mengapa kau tidak coba tumbuhkan sayapmu dan tebang diatas mobil mobil itu?”

Ega berkata dalam benaknya benar-benar gila nih kakek, Entah kenapa Ega mulai tidak suka dengan celotahan si kakek gila itu. Lagi-lagi Ega pun tidak memedulikannya dan berlalu begitu saja.

Sesampainya di rumah, Ega bertemu dengan Adam, kakaknya, “udah pulang kerja kak?”

“iya ga, tadi kerjaan kakak udah kelar” kata Adam sambil mengaduk minuman dicangkirnya “oh iya, gimana pengumumannya?"

Ega pun bingung akan menjawab apa. Dengan terpaksa dia mengungkapkan yang sejujurnya “tidak lolos kak”

Suasana rumah pun menjadi hening. Tidak lama kemudian Eva istri Adam muncul dari dapur menggendong Nana anak mereka yang masih bayi yang juga keponakan Ega, “sabar ga, kamu anak yang pintar. mungkin itu belum rejekinya kamu”
Ega hanya tersenyum sekilas sebelum akhirnya dia menuju ke kamarnya.
....


Malam harinya Ega merasa gelisah. Dia masih tak percaya dengan apa yang terjadi akhir akhir ini. Dunianya yang telah membuatnya kuat, kini telah runtuh oleh serangan takdir yang bertubi tubi. Tak ada harapan lagi untukku. Apa aku harus menyerah? Tidak, ini duniaku. Ini masa depan ku. Siapa lagi yang akan menentukan kalau bukan aku, Ega mencoba menenangkan diri. Aku harus ikut SBMPTN kalau perlu Ujian Mandiri. ya aku harus.

Ega pun memberanikan diri berbicara dengan Adam perihal niatnya mengikuti SBMPTN. “aku tau ga kamu sangat ingin masuk kedokteran, tapi kan kamu juga tahu gaji kakak gak seberapa” jelas Adam.

“kakak kan punya tabungan yang dulu mau kakak gunakan buat memberangkatkan ibu ke mekah” protes Ega.

“iya, tapi sekarang itu untuk kebutuhan kita sehari hari. lagian kamu kan masih bisa pilih prodi lain selain kedokteran. kamu tahu sendiri kuliah di kedokteran tuh gak murah ga” Adam mencoba meyakinkan Ega.

“kalau soal uang, nanti Ega ganti kalau udah sukses kak. sekarang tugas kakak cuma ngebiayain kuliah ega kan?” Keegoisan Ega mulai muncul.

“memangnya kamu tidak butuh makan, beli baju, sama kebutuhan lain..” Adam masih mencoba meyakinkan Ega ketika pembicaraannya dipotong.

“kalau soal makan dan baju, Ega bisa cari sendiri kak!”.

“kamu juga gak inget apa kalau aku juga punya istri dan anak yang masih kecil, jangan egois gitu dong jadi anak!” bentak Adam mulai terpancing emosi.

“kakak ini tidak seperti ibu. kalau saja ibu masih ada, pasti dia akan berusaha sekuat tenaga supaya aku bisa masuk kedokteran!”
“jaga mulutmu!!” Adam bersiap memukul Ega.

“Apa?! pukul kak. pukul aku!!”

“sstt, sudah sudah!” tiba tiba Eva muncul dari kamarnya sambil menggendong Nana yang sedang menangis, “lihat nih Nana jadi menangis gara gara kalian” sambil menepuk-nepuk punggung putrinya agar berhenti menangis.

Ega terkejut melihat Eva, kemudian memandangi Adam dengan tatapan tajam sebelum akhirnya pergi dari rumah tanpa sepatah kata pun.
....


Malam itu hujan turun cukup deras. Ega memilih berteduh di sebuah halte bus di pinggir trotoar. Emosinya yang masih meluap luap membuat pikirannya kembali keruh. Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, mengingat dia sebelumnya belum pernah bertengkar bergitu hebat dengan kakak kandung yang paling dia sayangi itu.

“seperti biasa, kau selalu saja manghindari mobil mobil itu”

Ega sontak terkejut mendengar suara yang tiba tiba muncul. Dia mencari cari darimana asal suara itu sampai akhirnya dia mendapati seseorang yang dikenalnya sebagai si kakek gila sedang duduk disampingnya.

“kenapa kau tak menuruti kata kata ku, mengapa kau tidak mencoba terbang? apakah karena takut akan hujan?”, kata si kakek sambil terus memandangi jalanan tanpa mengalihkan pandangan ke arah Ega.

“kakek ini ngomong apa sih. kenapa kakek disini?”, Ega mulai kesal pada si kakek.

“kau masih muda nak, banyak yang harus kau pelajari” sahut si kakek.

“aku telah banyak belajar di sekolah, tapi apa yang ku dapatkan sekarang? hanya kegagalan yang selalu kudapat! dan kau masih menyuruhku untuk belajar?!” protes Ega.

“ini bukan soal ilmu pasti yang kau dapatkan dari sekolah, tapi ini soal kehidupan”. Ega hanya terdiam, malas berdebat dengan si kakek. “mobil dan para pejalan kaki itu memiliki jalan mereka masing masing” sang kakek menunjuk ke arah pejalan kaki yang ingin menyeberang jalan. “Saat seorang pejalan kaki ingin ke seberang, dia harus menyebrangi mobil mobil itu” dengan semangat sang kakek menjelaskan. “Ada dua pilihan untuk si pejalan kaki agar sampai ke seberang, yaitu mencari tempat penyebrangan atau menghindari mobil mobil yang lewat".

“maksud kakek?” Ega mulai penasaran.
“mobil yang berlalu lalang itu diibaratkan sebuah masalah yang tak pernah kita ketahui kapan berakhirnya. Sangat tidak mungkin menunggu masalah masalah itu habis. Yang bisa kita lakukan adalah menghindarinya atau mencari jalan keluarnya”.

“terus kenapa aku harus terbang?” tanya Ega.

“dengan terbang bukanya lebih mudah untuk menemukan jalan keluar”, kata si kakek tertawa geli,  “belajar terbang artinya kita mempelajari masalah tersebut. Saat kita telah menguasainya, otomatis level kita berada satu tinggkat diatasnya. Jika suatu saat mobil mobil itu lewat lagi, kita tinggal terbang diatasnya”.

“terus bagaimana dengan hujan yang tadi kakek bilang?”.

Sang kakek menoleh ke arah Ega sambil tersenyum, “kalau kau sudah belajar banyak, pasti kau akan mengetahui bahwa hujan tidak akan turun di atas awan”.

Ega sangat terkejut dengan tatapan hangat si kakek. Kemudian dia mencoba bertanya lagi, “tapi, bukankah jika kita bisa terbang sampai di atas awan kita malah akan terkena panasnya terik matahari ya kek?”.

“sebenarnya terbang melampaui matahari sekalipun, kita akan mendapati diri kita kehabisan nafas. Masalah akan terus ada ketika kita masih hidup didunia, tapi apakah kita hanya menyerah pada takdir? mengapa kita tidak menghadapinya dengan pikiran positif, mencoba mempelajari setiap masalah yang ada, dan menaikan level kita satu tingkat diatasnya?” sang kakek menghela nafas “dan bukankah akan lebih mengasyikan jika kita telah berada di atas matahari, kemudian sesekali kembali ke daratan dan menceritakan apa yang terjadi di atas sana kepada setiap orang?” sekali lagi kakek itu tersenyum kepada Ega.

Ega pun ikut tersenyum “terima kasih kek, mulai saat ini aku akan mencoba belajar terbang melewati mobil mobil itu”.

Malam makin larut saat hujan kembali reda. Si kakek misterius itu pun terlelap. Ega mau tak mau juga tidur di halte bersama si kakek.
....


Pagi itu Ega dibangunkan oleh suara bising kendaraan yang mulai memadati jalan. Matahari baru saja menampakkan dirinya dari cakrawala timur saat Ega mencoba mengenali sekitar. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tidur tanpa memakai bantal. Dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi, hingga akhirnya dia ingat pada si kakek misterius. Dia menoleh kearah tempat si kakek tidur semalam, ternyata sudah tidak ada. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang kerumah dan mencoba meminta maaf kepada kakaknya.

Dalam perjalanannya pulang, Ega melihat si kakek misterius mondar mandir di tepi jalan. Tanpa ragu Ega kemudian memanggilnya, tapi si kakek tidak mendengar suaranya. Si kakek berhenti sejenak berdiri mengamati jalanan, kemudian dia berjalan ke tengah jalan. Dari arah kanan, datang sebuah truck berkecepatan tinggi menabrak sang kakek. Ega yang menyaksikan langsung kejadian itu sontak berlari menghampiri si kakek yang sudah berlumuran darah. Ega pun tak kuasa menahan emosi yang berkecamuk didalam dirinya ketika mengingat sang kakek nampak tersenyum kearahnya sesaat sebelum kecelakaan itu menimpanya. Tak lama kemudian mobil Ambulan datang. Ega pun turut menyertai sang kakek ke rumah sakit.

Di ruang tunggu ICU, Ega memikirkan berbagai macam ingatan dan memori tentang si kakek, tentang bagaimana pertama kali mereka bertemu, kebiasaan si kakek yang selalu memandangi jalanan, hingga pesan terahir sang kakek.

Lamunan Ega kemudian pecah ketika dia melihat kakaknya, Adam bersama istri dan putrinya yang masih bayi datang menghampirinya. Ega pun menyambut kakanya dengan pelukan haru.

“kamu gak kenapa-kenapa kan ga?” tanya Adam

“gak kenapa-kenapa kok kak.”

Ekspresi Ega kembali menegang ketika dokter keluar dari ruang ICU. “kami butuh darah AB rhesus negatif segera!”

“saya pak, saya AB rhesus negatif.” Ega langsung mengajukan diri.

“oke, saya tunggu di dalam.” sang dokter kembali masuk ke dalam ruang ICU.

Sebelum sempat Ega melangkah ke dalam, Adam meraih ke lengan adiknya “Apa kamu tidak apa apa? kamu kan belum makan dari kemarin?” tampak kekhawatiran dalam raut wajah Adam.

“gak apa-apa kak, Ega masih kuat kok.” Dia pun menuju ke dalam menyusul sang dokter.
....


Tiga hari setelah kejadian itu, tiba tiba ada yang mengetuk pintu rumah Ega. Dia yang sedang dirumah sendiri membukakan pintu. Nampaklah seorang bapak berbadan tegap dan tinggi dengan sedikit kumis diatas bibirnya. Dia memakai kemeja warna hijau toska dan berdiri di depan pintu.

“Terimakasih telah menyelamatkan nyawa ayah saya,” kata bapak tersebut sambil menjabat tangan Ega.

Ega terheran-heran dengan orang asing itu, “Bapak ini siapa?”

“oh iya, perkenalkan nama saya dokter Michel Wijoyo, seorang dokter sekaligus rektor salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Jakarta.”
....
“Ananda Ega Saputra dipersilahkan memberikan sambutan mewakili para siswa.”

Seketika Ega kembali dari lamunannya ketika mendengar tepuk tangan dari teman temannya, “ha? ada apa ini?”

“kamu habis ngelamun ya? pasti ngelamunin yang jorok-jorok. di suruh sambutan tuh,” ejek Aan yang duduk di sebelahnya.

"hah? serius nih?"

"udah, cepetan sana", Aan langsung mendorng Ega menuju mimbar.

Ega berdiri di atas mimbar, memandangi teman teman serta guru dan para orangtua siswa. “assalamua'aikum...” dengan suara bergetar, dia tidak tahu akan memberi sambutan seperti apa. “puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala, yang telah menurunkan rahmat yang melimpah bagi saya dan para hadirin sekalian. Berkat Dia-lah saya bisa berdiri disini dengan almamater kebanggaan kita semua ini. Dia juga lah yang selalu menuntun kita saat kita dalam kegelapan, terjerat hawa nafsu dan emosi, dan ketika kita tidak tahu lagi harus melangkah,” Ega menghela nafas. ”untuk guru-guru kami tercinta, terimakasih atas ilmu berharga yang setiap hari engkau berikan. Engkau rela menempuh jarak menembus badai dan halilintar demi membawakan secuil oleh-oleh manis yang tak pernah kau tahu bahwa itu sangat berarti besar bagi kami. Kini sayap sayap kami semua telah tumbuh. Untuk itu lepaslah kami, lepaslah kami ke angkasa nun luas agar kami kelak akan menaklukkan dunia,” Ega kembali mencoba menyusun kata kata. “tak lupa untuk teman-temanku sekalian. Terimakasih karena telah memberikan warna warna pada kanvas kehidupan ini, yang akan ku letakkan pada sebuah musium abadi hingga suatu saat ajal menghampiri. Jika suatu saat nanti kita berjumpa, akan kuperlihatkan bahwa kalianlah yang selalu mendatangkan pelangi ketika hujan mulai lelah berjatuhan.” kepercayaan dirinya mulai muncul, “satu pesan dari orang yang selalu menjadi inspirasi bagi saya, ‘Meskipun kita telah terbang hingga menembus langit, janganlah enggan untuk kembali turun ke daratan, dan ceritakan apa yang telah kau lihat di atas sana’.”

Tepuk tangan para hadirin membuatnya bangga terhadap dirinya sendiri. Di ujung bangku tempat para orang tua, Ega melihat Adam tersenyum haru melihat kearahnya sambil bertepuk tangan. Tanpa sadar Ega pun meneteskan air matanya. Belum pernah dia sebahagia ini dalam hidupnya.
....


Acara perpisahan pun selesai. Ega keluar dari hall untuk menikmati udara sejuk. Dunia akan berubah mulai hari ini, pikirnya. Ega merasa dirinya sudah mulai dewasa, dan banyak pelajaran yang telah dia dapatkan. Ketidak-adilan hidup ini telah membuatnya sadar bahwa masih ada Tuhan yang selalu menjamin segala urusan hidupnya. Ega teringat sebuah kutipan novel yang pernah ia pinjam dari perpustakaan, “jika ada sebuah masalah besar, kita harus bilang kepada si masalah besar ‘hai masalah besar, aku punya tuhan yang lebih besar’.”
Apa yang akan terjadi pada masa depannya ditentukan oleh dirinya sendiri. Ya, kalau bukan diri kita terus siapa lagi?

“kamu beneran mau kuliah di jakarta ga?” suara Anggi tiba tiba mengagetkan Ega.

Ega mengangguk sambil tersenyum.

“ciee yang dapet beasiswa di Jakarta,” sindir Aan, membuat Ega jengkel.

“apaan sih lo.”

“ciee pisah-pisah dong kita,” kata Cynthia ikut nimbrung. “tapi gak apa-apa, yang penting cita-cita kita semua tercapai. Janji ya??”

“ok, aku akan berusaha keras!” Ega kembali bersemngat.

sok-sokan lo.” kata Aan sambil memukul kepala Ega.

Hari kembali berlanjut dibawah mentari yang masih sama. Ega melihat burung Pipit yang tadi berada di atas pintu gerbang kembali terbang menuju angkasa. Ega tersenyum melihatnya. Betapa Ega iri terhadap mereka yang bisa terbang bebas diatas segala masalah yang berada dibawah sini. Tuhan, berilah aku kekuaatan untuk menumbuhkan sayap-sayapku agar aku bisa terbang bebas meperti mereka.
~~(fin)~~


Note: Saya pribadi turut berduka cita atas musibah yang menimpa saudara kita di Gaza, palestine. Pas liat berita di tipi, ane berasa liat the raid: berandal, mayat dimana mana. Tega banget ya israel ckck. oiya, saya segenap jiwa dan raga juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1435 Hijriyah. Juga selamat deg degan aja buat temen temen yang nunggu pengumuman SBMPTN, moga aja bisa menginspirasi. Dan makasih lho udah baca sampai akhir (atau cuma baca akhirnya tok?)

immage source: http://bintangberkisah.files.wordpress.com/2012/09/animasi-burung-bird-animation-211.gif

Minggu, 02 Februari 2014

Janji Pada Burung Pipit

Mimpi.. Sebenarnya apa sih mimpi itu, seberapa hebatkah mimpi, hingga banyak orang mengatakan bahwa "mimpi merupakan awal untuk mengubah dunia".

  
Namaku Ega Saputra, anak seorang petani padi di ujung sebuah desa. Tinggal bersama ibu dan seorang kakak kandung bernama Adam yang usianya terpaut 15 tahun dari usiaku. Terkadang Aku lebih menganggap Adam sebagai seorang ayah dari pada kakak sendiri. Ayahku meninggal saat usiaku masih 5 tahun karena serangan jantung. Dan sejak saat itulah Aku selalu bermimpi dan mencita-citakan untuk menjadi seorang dokter, sehingga tidak ada lagi orang yang dia sayangi pergi dari hidupnya.

Aku beruntung karena Ibu bisa menyekolahkan ku sejak dini, meski kakakku harus mengorbankan masa depannya demi aku dan ibu. Kakak adalah lulusan SMA dan tidak berniat untuk melanjutkan kuliah demi membantu ibuku menutupi kekurangan yang ditinggalkan oleh ayah. ibu dan kakak bekerja mati matian memanen padi demi sekolahku. Ibuku selalu tahu bahwa aku sangat mencita citakan untuk menjadi seorang dokter.

Suatu hari disekolah, Bu Anjar, guruku di TK Aisyiah bertanya kepada murid muridnya tentang apa cita citanya. 

"anak anak.." dengan nada ceria. 
"iya bu?" serempak menjawab.
"siapa diantara kalian yang ingin menjadi dokter..?" Sekolah yang hanya memiliki 13an murid itu tiba tiba ramai dipenuhi suara anak anak yang saling tunjuk. 

Tanpa ragu aku berdiri dan mengankat tangan, "saya bu!". 

Bu Anjar menatap ke arahku dengan kedua matanya yang sipit dibalik kacamatanya yang tebal, kemudian tersenyum kepadaku "bagus Ega, pertahankan cita citamu, kelak kau akan menggapainya". 

Aku pun hanya tersipu. Kemudian melihat ke sekelilingku, diujung depan berjarak dua kursi dari pintu keluar tampak Anggi, gadis manis bermata sipit yang selalu aku kagumi sejak pertama aku masuk TK, dan berjarak satu meja di belakangnya Aan anak berambut poni berbadan besar yang juga ikut berdidiri dan mengangkat tangannya.

Entah apa yang membuat kami cepat akrab, sejak saat itu kami bertiga mulai sering bermain bersama. Kami selalu menghabisakan waktu dengan bermain dokter dokteran dengan ranting pohon dan sendok makan yang kami bawa buat makan bekal dari rumah. Tekadang teman kami si Ande, anak berambut ikal berbadan kurus juga ikut menemani. Waktu itu adalah saat saat yang paling menyenakngkan dalam hidup kami.

Sore itu langit terlihat lebih indah dari biasanya. Kami berempat yang mulai beranjak remaja sedang berjalan pulang menyusuri sawah di ujung desa. Tanpa sengaja kami menemukan seekor burung Pipit yang terluka pada sayap kirinya. "kita harus merawatnya" kata Anggi, 

"jangan, nanti penduduk desa akan marah pada kita kalau sapai ketahuan" sahut Ande ketakutan. Di desa kami, burung pipit adalah hama paling ganas yang menyerang tumbuhan padi dan mengakibatkan kerugian besar pada para petani. Oleh karenanya penduduk desa sangat bembenci burung pipit melebihi apapun. Kemungkinan besar burung ini terluka akibat perbuatan penduduk desa.

"tidak, asal tidak ketahuan tidak apa apa" tegas Aan.
"oke, mari kita rawat burung ini. Aan kamu ambil obat merah, perban, sama kapas. Anggi kamu ambil air di sungai. Ande kamu buat sarang di pohon jambu itu, cepat".
"lah, terus kamu ngapain ga?" tanya Ande.
"ya aku sih disini nungguin kalian" sambil cengengesan tanpa merasa dosa, "ok deh aku bantuin Ande buat sarangnya".

Tepat saat matahari tenggelam dalam datarnya katulistiwa, kami pun selesai melakukan pertolongan pertama pada burung itu. Keringat menetes di pipi kami, tetapi setelah melihat ke arah Anggi aku baru sadar bahwa bukanlah keringat yang menetes dipipinya melainkan air mata. Kami semua lega akan apa yang telah kami perbuat pada sore itu.

Sejak hari itu setiap pulang sekolah kami selalu datang ke pohon jambu dimana kami merawat si Empit. Setidaknya itulah nama yang terlintas di pikiran kami untuk menamai burung pipit itu, setelah Ande mencoba memberikan nama seperti nama sayur sayuran. Kami selalu datang untuk memberinya makanan, mengganti perbannya, dan merapikan sarangnya, dan entah kenapa pada waktu itu yang kami rasakan hanyalah bahagia saat merawat si Empit.

Sebelas hari berlalu, Empit pun sudah siap untuk dilepas perbanya. Aku melihat air mata menggenang di mata Anggi saat dia mencoba membuka perban dan kemudian menetes ketika perbannya terlepas dari sayap Empit. Bulu tipis yang mulai tumbuh di sekitar bekas lukanya menandakan bahwa jerih payah kami ternyata membuahkan hasil. 

"kita berhasil!" teriak Ande. 
"aku tidak percaya telah melakukan semua ini. aku pernah bermimpi bahwa aku akan menyembuhkan banyak orang, ternyata Empitlah yang pertama ku sembuhkan" kata Aan, dengan mata yang berkaca kaca.
"aku berjanji akan menyembuhkan lebih banyak nyawa lagi mulai saat ini" kata Anggi, sambil bercucuran air mata.
"tidak, bukan hanya kamu gi, kita semua berjanji atas nama Empit yang menjadi pasien pertama kita". Aan dan Ande mengangguk, Anggi pun tersenyum, dan sekali lagi, kita berempat tertawa bersama sama.

Kegembiraan kami teralihkan saat tiba tiba Empit melesat terbang menuju angkasa. Senyum haru pun terpancar di wajah kami berempat. Kesedihan yang tadi menyelimuti Anggi berubah menjadi pancaran senyum yang begitu indah. selamat tinggal Empit, terbanglah sampai engkau menembus surga, dan sampaikan salamku kepada masa depan.
....

Aku tebangun dari tempat tidur, mengingat ingat kenangan indah di masa kecil. Kemudian terduduk melamun. Memori kejadian kejadian belakangan mulai mencampuri pikiran, memperkeruh suasana hati. Dua minggu yang lalu ibuku telah menghembuskan nafas terkahirnya, setelah sebelumnya dirawat dirumah sakit akibat kangker paru-paru ganas yang aku sendiri tidak mengerti. Sawah peninggalan ayah pun sudah di jual untuk pengobatan ibu. Kakakku yang selalu sayang kepadaku telah memiliki istri yang sedang hamil dan membutuhkan dana untuk melahirkan. Akupun terancam tidak bisa meneruskan kuliah kedokteran. Tanpa sadar aku  meneteskan air mata di pipiku. Mencoba menghapus ingantan itu, aku bergegas bangun dari tempat tidurku dan bersiap untuk berangkat sekolah.

Pagi itu menyapaku dengan pendar mentari dari cakrawala timur. Aku sengaja berangkat pagi agar bisa mengumpulkan botol bekas yang beserakan di jalan jalan kota menuju sekolah untuk dijual sepulang sekolahnya dan hasilnya buat menambah uang saku ku. Aku sadar tidak bisa mengharapkan uang kiriman dari kakak ku yang sekarang beralih profesi menjadi buruh bangunan di kota.

Sesampainya di sekolah Anggi menyapa dari kejauhan. Anggi yang mulai beranjak dewasa terlihat sangat anggun di mataku beserta senyum manisnya yang tak berubah sejak pertamakali kita bertemu. Aku, Anggi dan Aan kebetulan satu sekolah di SMA faforit berkat nilai kami yang selalu bagus. Sedangkan Ande meneruskan di SMK Pertanian untuk meneruskan pekerjaan ayahnya kelak.

Di kelas Aan tiba tiba mengagetkanku dari belakang, "ga, kamu udah siap belum kalo misal UN nya diajuin jadi besok pagi?". Aan yang mulai beranjak dewasa memiliki tubuh yang langsing dan tinggi dan memakai kacamata, membuatnya dikagumi banyak wanita. Kebetulan kami berdua juga duduk bersebelahan dan Anggi tepat di depan kita bersebelahan dengan Cynthia, anak keluarga kaya dari kota.

"Udah pasti siap dong!" jawab ku tegas.
"kalau kalian?" bertanya kepada Anggi dan Cynthia yang lagi menatap kearah Aan.
"tentu saja siap" jawab mereka.
"jika lulus nanti aku akan masuk kuliah keperawatan" kata Anggi.
"kalau aku sudah tentu masuk kebidanan, seperti ibuku" kata Cynthia.
"kalau aku sih langsung ngelanjutin ke Farmasi" kata Aan, hening sejenak, lalu melanjutkan "hey, kayaknya udah pas nih.".
"maksudnya?" tanya Anggi.
"iya udah pas. Anggi jadi kepala perawat, Cynthia jadi bidannya, aku jadi kepala petugas Apoteker, dan Ega yang jadi kepala dokternya. dan kita buat rumah sakit kita sendiri. seperti janji kita sama Empit dulu".
"oh iya, aku ingat kalian pernah cerita tentang burung yang kalian tolong saat kalian masih kecil dulu" sahut Cynthia
"ya, dan kami berjanji akan selalu menyembuhkan lebih banyak nyawa lagi. untuk itu, rumah sakit adalah tempat yang tepat" kata Aan meyakinkan.
"kamu benar an, tapi apakah aku bisa masuk fakultas kedokteran umum dengan kondisi ekonomi keluargakuku yang sekarang?" suasanya pun menjadi hening.
Anggi pun tersenyum memancarkan silau keindahan di matanya yang sipit, "tenang ga, kan masih ada jalur undangan".
"betul!" kata Aan. Akupun tersenyum, dan lagi lagi kita pun tertawa bersama sama lagi.
....

"eits, tunggu dulu. kalau kita buat rumah sakit, terus ande kemana dong?" tanya Aan. "oh iya, aku lupa soal Ande" kata Anggi. "tenang kita buat sawah di sekitar rumah sakit kita, biar Ande bisa menanam padi di sana". "haha betul kamu ga!" kata Aan. "iya, sapa tau Empit juga mengunjungi kita" kata Anggi. "haha..."
....

Terbanglah sahabat
Kepakkan sayap sayapmu
Cobalah taklukkan dunia

Terbanglah sahabat
Jangan pernah kau menyerah
Gapailah semua anganmu


Story by. Tegar P Kurniawan
inspirasi dari celotehan anak SMA menjelang UN
(Tunjung Sekarwangi, Zanuwar Setia Budi, Yan Adnan Ferindra)

immage source http://www.wallpaperswala.com/wp-content/gallery/flying-birds/flying_birds_in_cloud.jpg

Rabu, 23 Oktober 2013

idul adha dan kehidupan normal gue

"walaupun beratnya sama, daging sapi yang dipekerjakan lebih banyak dari pada daging sapi yang diternakan" - Drs. Slamet Isnaeni

Sebuah kalimat yang insyaallah bisa mengawali postingan kali ini...


Gue beruntung setiap hari raya idul adha gue masih diberi kesempatan buat ngeposting catetan terburuk gue sepanjang sejarah. Kali ini adalah trilogy catetan gue pas ngerayain idul adha. Itu artinya udah tiga kali berturut turut idul adha gue terasa absurd. (#eh iya, ini masi suasana idul adha kan?)

Tapi beda dengan idul adha tahun tahun sebelumnya, idul adha kali ini gue ngerasa biasa biasa saja. Mungkin karena gue udah terbiasa dengan kesibukan gue.

Ngomongin soal kesibukan gue yang selalu menjadi topik postingan gue sebelumnya, akhirnya gue telah terbebas dari segala aktivitas yang gue hadapi. Yup, tepatnya hari minggu kemaren gue udah resmi pensiun dari organisasi Rohis di sekolah yang entah kenapa gue ketuanya. Sebelumnya, gue juga udah keluar dari ngajar pramuka di SD dan organisasi organisasi lain.

Gue sadar gue udah kelas tiga. Kegiatan gue selanjutnya tinggal belajar dan nentuin masa depan, ckck


Mungkin kemarin gue selalu mengeluh tentang apa yang selalu gue hadapi, mengeluh tentang apa yang harus gue lakukan. Tapi disamping itu banyak hikmah yang dapat gue ambil. Gue selalu inget diri gue di masa lalu, saat pertama kali masuk SMA. Gue tuh bukan apa apa di bandingkan sekarang. Gue bener bener di tempa dalam setahun kemarin.

Galau? kata pak bro mario teguh galau tuh normal bagi anak muda. Bahkan beliau bilang jika ada anak muda yang tidak galau, anak tersebut perlu dipertanyakan kenormalannya. Yang terpenting adalah bagai mana kita mencari jalan keluar dari kegalauan hidup kita.

"Berani keluar dari zona aman lo, dan hadapi semua yang ada di depan lo!"

Kutipan dari novel 5cm di atas selalu menjadi inspirasi gue saat gue galau. Di saat saat sulit gue, gue selalu berpikir "apakah gue bisa keluar dari zona aman gue?", di sisi lain hati gue terus meyakinkan "lo pasti bisa gar! lo ga sendiri, masi ada temen temen lo yang selalu siap ngebantuin". Yakin dan konsekuen dengan apa yang gue lakuin adalah kuncinya. Dengan musyawarah segala masalah insyaallah bisa terselesaikan.

Di awal tadi gue udah sampein bahwa seekor sapi pekerja lebih banyak dagingnya dari pada sapi ternak. Sama seperti kita, jika kita terus bekerja dan berusaha menghadapi masalah, maka banyak pula pengalaman yang dapat kita peroleh.

Satu yang gue sadari selama jadi ketua. "Ketua itu ibarat bumi yang selalu di injak injak, tetapi dapat memberi kehidupan bagi anggota anggotanya" - Mas bro Romi

yahh.. mungkin kata "suwun banget lo dab!" belum cukup untuk membayar keikhlasan temen temen selama ngebantuin gue, memberi gue motivasi, dan pelajaran berharga buat gue :'D

Dulu gue pernah bilang pas kita lagi kumpul bareng sama Soni (wakil gue selama ngejabat), "son, keknya suatu hari nanti gue bakalan ngerinduin masa masa kek gini deh..". Memang, masa lalu yang indah membuat kita terus rindu dan memotivasi kita untuk masa yang lebih baik. Dan semuanya akan tambah indah kalo lo jadi diri lo sendiri.. bukan orang lain.


Semangat terus generasi muda, penerus Rohis Al-'azhiim SMA 2 Banguntapan. Sebagai penutup, gue ingin mengutip dari sabda rasulullah SAW "Tinta seorang pelajar lebih suci dari pada darah seorang martir"

note: keknya gue bakalan kembali ke kehidupan gue sebelumnya yang penuh dengan keabsurdan nongkrong berjam jam di WC tetangga.
Okee.. selamat datang kehidupan gue yang dulu (#nelen paket Fisika)

source image:
http://s3.amazonaws.com/readers/2012/02/16/home-sheep-home_1.jpg
http://www.befreetoday.com.au/wp-content/uploads/2013/04/Freedom-Quote.png
http://quotesstack.com/wp-content/uploads/2013/10/freedom-quotes.jpeg

Sabtu, 18 Mei 2013

what's up with responsibility and torture myself

"besok mau pergi?" suara dari arah dapur terdengar lirih di telinga gw, membuat gw tiba tiba meresponya. "apa?" tanya gw balik. "besok mau ijin kemana lagi?" suara yang tadinya lirih seakan menjadi suara halilintar bagiku..

Malam minggu ini gw putuskan untuk menuangkan keseharian gw di blog yang (dulu) biasanya gw lakukan. Percakapan gw sama tante barusan telah membuka suatu masalah yang akan gw bahas di blog kali ini.


Kemarin gw baru saja sembuh dari flu yang telah melanda gw selama seminggu lebih. selama itu juga gw baru sadar betapa berharganya waktu istirahat buat gw. di postingan gw sebelumnya, gw sempet cerita kesibukan yang (hingga sekarang) gw alami. semuanya menguras pikiran dan waktu gw. bahkan menurut gw 24 jam itu belum layak dikatakan sehari.

Gw beruntung telah dibesarkan di keluarga yang sangat perhitungan dengan masalah waktu. Setiap hari sepulang sekolah, kalo gw ada acara ato apa yang membuat gw pulang telat, gw musti SMS tante gw, kalo gak pasti gw dimarahi abis abisan.

Saking seringnya gw SMS minta ijin sama tante gw, sampe sampe suatu hari tante gw ngeduluin gw SMS, "mau ijin kemana lagi gar?". Hal ini yang selalu ngebuat gw jadi gak enak sama tante gw. Tapi gw tau kalo sebenarnya niat tante gw baik, agar keponakan tersayangnya ini gak kecapekan dengan segala aktifitas yang bisa dikatakan hufff... sangat padat.

Tapi, mau bagaimanapun namanya tanggung jawab gak bisa di elakan. biarlah gw dimarahin asal tanggung jawab gw beres.

Berhari hari terus gw jalani dengan berbekal motivasi tadi. setiap hari pulang telat, gw pun jadi sering keluar malem. pelajaran ikut kececer. waktu istirahat hampir tidak ada. dan akhirnya gw pun terbaring lemas.

Dalam sakit gw, gw melakukan instropeksi diri. Gw berpikir dan terus berpikir. Apakah yang selama ini gw lakukan hanyalah memaksakan diri, menyiksa diri sendiri. Apakah itu artinya gw termasuk orang yang menzalimi diri sendiri. Apakah gw salah jika hanya ingin melaksanakan tanggung jawab gw. Apakah salah jika eyang subur nyalonin jadi presiden?? (lho)

Sampe sekarang pun gw masih belum menemukan jawabanya. mungkin eyang udah?? (malah tanya)

Kalo boleh di ibaratin, gw mengibaratkan 'tanggung jawab' adalah sebagai 'istri' gw. Namun sialnya, gw telah berpoligami terhadap 'istri istri' gw. Dan bagaimana cara gw ngejatah 'istri istri' gw, yaitu dengan mendatangi mereka satu persatu (absen) terus gw tinggal tidur di tempat 'istri' gw. Masalah pun beres. wkwkw #DeviLaugh

NB: namun semua istri istri (masih dalam artian tanggung jawab)  gw, membuat gw galau. dan akhirnya beberapa istri gw sudah banyak yang gw cerai. ckck, mungkin ini juga salah gw sendiri, mengapa dulu gw terima ajakan mereka semua. Istri itu memang idealnya cuma satu saja. XD