Minggu, 02 Februari 2014

Janji Pada Burung Pipit

Mimpi.. Sebenarnya apa sih mimpi itu, seberapa hebatkah mimpi, hingga banyak orang mengatakan bahwa "mimpi merupakan awal untuk mengubah dunia".

  
Namaku Ega Saputra, anak seorang petani padi di ujung sebuah desa. Tinggal bersama ibu dan seorang kakak kandung bernama Adam yang usianya terpaut 15 tahun dari usiaku. Terkadang Aku lebih menganggap Adam sebagai seorang ayah dari pada kakak sendiri. Ayahku meninggal saat usiaku masih 5 tahun karena serangan jantung. Dan sejak saat itulah Aku selalu bermimpi dan mencita-citakan untuk menjadi seorang dokter, sehingga tidak ada lagi orang yang dia sayangi pergi dari hidupnya.

Aku beruntung karena Ibu bisa menyekolahkan ku sejak dini, meski kakakku harus mengorbankan masa depannya demi aku dan ibu. Kakak adalah lulusan SMA dan tidak berniat untuk melanjutkan kuliah demi membantu ibuku menutupi kekurangan yang ditinggalkan oleh ayah. ibu dan kakak bekerja mati matian memanen padi demi sekolahku. Ibuku selalu tahu bahwa aku sangat mencita citakan untuk menjadi seorang dokter.

Suatu hari disekolah, Bu Anjar, guruku di TK Aisyiah bertanya kepada murid muridnya tentang apa cita citanya. 

"anak anak.." dengan nada ceria. 
"iya bu?" serempak menjawab.
"siapa diantara kalian yang ingin menjadi dokter..?" Sekolah yang hanya memiliki 13an murid itu tiba tiba ramai dipenuhi suara anak anak yang saling tunjuk. 

Tanpa ragu aku berdiri dan mengankat tangan, "saya bu!". 

Bu Anjar menatap ke arahku dengan kedua matanya yang sipit dibalik kacamatanya yang tebal, kemudian tersenyum kepadaku "bagus Ega, pertahankan cita citamu, kelak kau akan menggapainya". 

Aku pun hanya tersipu. Kemudian melihat ke sekelilingku, diujung depan berjarak dua kursi dari pintu keluar tampak Anggi, gadis manis bermata sipit yang selalu aku kagumi sejak pertama aku masuk TK, dan berjarak satu meja di belakangnya Aan anak berambut poni berbadan besar yang juga ikut berdidiri dan mengangkat tangannya.

Entah apa yang membuat kami cepat akrab, sejak saat itu kami bertiga mulai sering bermain bersama. Kami selalu menghabisakan waktu dengan bermain dokter dokteran dengan ranting pohon dan sendok makan yang kami bawa buat makan bekal dari rumah. Tekadang teman kami si Ande, anak berambut ikal berbadan kurus juga ikut menemani. Waktu itu adalah saat saat yang paling menyenakngkan dalam hidup kami.

Sore itu langit terlihat lebih indah dari biasanya. Kami berempat yang mulai beranjak remaja sedang berjalan pulang menyusuri sawah di ujung desa. Tanpa sengaja kami menemukan seekor burung Pipit yang terluka pada sayap kirinya. "kita harus merawatnya" kata Anggi, 

"jangan, nanti penduduk desa akan marah pada kita kalau sapai ketahuan" sahut Ande ketakutan. Di desa kami, burung pipit adalah hama paling ganas yang menyerang tumbuhan padi dan mengakibatkan kerugian besar pada para petani. Oleh karenanya penduduk desa sangat bembenci burung pipit melebihi apapun. Kemungkinan besar burung ini terluka akibat perbuatan penduduk desa.

"tidak, asal tidak ketahuan tidak apa apa" tegas Aan.
"oke, mari kita rawat burung ini. Aan kamu ambil obat merah, perban, sama kapas. Anggi kamu ambil air di sungai. Ande kamu buat sarang di pohon jambu itu, cepat".
"lah, terus kamu ngapain ga?" tanya Ande.
"ya aku sih disini nungguin kalian" sambil cengengesan tanpa merasa dosa, "ok deh aku bantuin Ande buat sarangnya".

Tepat saat matahari tenggelam dalam datarnya katulistiwa, kami pun selesai melakukan pertolongan pertama pada burung itu. Keringat menetes di pipi kami, tetapi setelah melihat ke arah Anggi aku baru sadar bahwa bukanlah keringat yang menetes dipipinya melainkan air mata. Kami semua lega akan apa yang telah kami perbuat pada sore itu.

Sejak hari itu setiap pulang sekolah kami selalu datang ke pohon jambu dimana kami merawat si Empit. Setidaknya itulah nama yang terlintas di pikiran kami untuk menamai burung pipit itu, setelah Ande mencoba memberikan nama seperti nama sayur sayuran. Kami selalu datang untuk memberinya makanan, mengganti perbannya, dan merapikan sarangnya, dan entah kenapa pada waktu itu yang kami rasakan hanyalah bahagia saat merawat si Empit.

Sebelas hari berlalu, Empit pun sudah siap untuk dilepas perbanya. Aku melihat air mata menggenang di mata Anggi saat dia mencoba membuka perban dan kemudian menetes ketika perbannya terlepas dari sayap Empit. Bulu tipis yang mulai tumbuh di sekitar bekas lukanya menandakan bahwa jerih payah kami ternyata membuahkan hasil. 

"kita berhasil!" teriak Ande. 
"aku tidak percaya telah melakukan semua ini. aku pernah bermimpi bahwa aku akan menyembuhkan banyak orang, ternyata Empitlah yang pertama ku sembuhkan" kata Aan, dengan mata yang berkaca kaca.
"aku berjanji akan menyembuhkan lebih banyak nyawa lagi mulai saat ini" kata Anggi, sambil bercucuran air mata.
"tidak, bukan hanya kamu gi, kita semua berjanji atas nama Empit yang menjadi pasien pertama kita". Aan dan Ande mengangguk, Anggi pun tersenyum, dan sekali lagi, kita berempat tertawa bersama sama.

Kegembiraan kami teralihkan saat tiba tiba Empit melesat terbang menuju angkasa. Senyum haru pun terpancar di wajah kami berempat. Kesedihan yang tadi menyelimuti Anggi berubah menjadi pancaran senyum yang begitu indah. selamat tinggal Empit, terbanglah sampai engkau menembus surga, dan sampaikan salamku kepada masa depan.
....

Aku tebangun dari tempat tidur, mengingat ingat kenangan indah di masa kecil. Kemudian terduduk melamun. Memori kejadian kejadian belakangan mulai mencampuri pikiran, memperkeruh suasana hati. Dua minggu yang lalu ibuku telah menghembuskan nafas terkahirnya, setelah sebelumnya dirawat dirumah sakit akibat kangker paru-paru ganas yang aku sendiri tidak mengerti. Sawah peninggalan ayah pun sudah di jual untuk pengobatan ibu. Kakakku yang selalu sayang kepadaku telah memiliki istri yang sedang hamil dan membutuhkan dana untuk melahirkan. Akupun terancam tidak bisa meneruskan kuliah kedokteran. Tanpa sadar aku  meneteskan air mata di pipiku. Mencoba menghapus ingantan itu, aku bergegas bangun dari tempat tidurku dan bersiap untuk berangkat sekolah.

Pagi itu menyapaku dengan pendar mentari dari cakrawala timur. Aku sengaja berangkat pagi agar bisa mengumpulkan botol bekas yang beserakan di jalan jalan kota menuju sekolah untuk dijual sepulang sekolahnya dan hasilnya buat menambah uang saku ku. Aku sadar tidak bisa mengharapkan uang kiriman dari kakak ku yang sekarang beralih profesi menjadi buruh bangunan di kota.

Sesampainya di sekolah Anggi menyapa dari kejauhan. Anggi yang mulai beranjak dewasa terlihat sangat anggun di mataku beserta senyum manisnya yang tak berubah sejak pertamakali kita bertemu. Aku, Anggi dan Aan kebetulan satu sekolah di SMA faforit berkat nilai kami yang selalu bagus. Sedangkan Ande meneruskan di SMK Pertanian untuk meneruskan pekerjaan ayahnya kelak.

Di kelas Aan tiba tiba mengagetkanku dari belakang, "ga, kamu udah siap belum kalo misal UN nya diajuin jadi besok pagi?". Aan yang mulai beranjak dewasa memiliki tubuh yang langsing dan tinggi dan memakai kacamata, membuatnya dikagumi banyak wanita. Kebetulan kami berdua juga duduk bersebelahan dan Anggi tepat di depan kita bersebelahan dengan Cynthia, anak keluarga kaya dari kota.

"Udah pasti siap dong!" jawab ku tegas.
"kalau kalian?" bertanya kepada Anggi dan Cynthia yang lagi menatap kearah Aan.
"tentu saja siap" jawab mereka.
"jika lulus nanti aku akan masuk kuliah keperawatan" kata Anggi.
"kalau aku sudah tentu masuk kebidanan, seperti ibuku" kata Cynthia.
"kalau aku sih langsung ngelanjutin ke Farmasi" kata Aan, hening sejenak, lalu melanjutkan "hey, kayaknya udah pas nih.".
"maksudnya?" tanya Anggi.
"iya udah pas. Anggi jadi kepala perawat, Cynthia jadi bidannya, aku jadi kepala petugas Apoteker, dan Ega yang jadi kepala dokternya. dan kita buat rumah sakit kita sendiri. seperti janji kita sama Empit dulu".
"oh iya, aku ingat kalian pernah cerita tentang burung yang kalian tolong saat kalian masih kecil dulu" sahut Cynthia
"ya, dan kami berjanji akan selalu menyembuhkan lebih banyak nyawa lagi. untuk itu, rumah sakit adalah tempat yang tepat" kata Aan meyakinkan.
"kamu benar an, tapi apakah aku bisa masuk fakultas kedokteran umum dengan kondisi ekonomi keluargakuku yang sekarang?" suasanya pun menjadi hening.
Anggi pun tersenyum memancarkan silau keindahan di matanya yang sipit, "tenang ga, kan masih ada jalur undangan".
"betul!" kata Aan. Akupun tersenyum, dan lagi lagi kita pun tertawa bersama sama lagi.
....

"eits, tunggu dulu. kalau kita buat rumah sakit, terus ande kemana dong?" tanya Aan. "oh iya, aku lupa soal Ande" kata Anggi. "tenang kita buat sawah di sekitar rumah sakit kita, biar Ande bisa menanam padi di sana". "haha betul kamu ga!" kata Aan. "iya, sapa tau Empit juga mengunjungi kita" kata Anggi. "haha..."
....

Terbanglah sahabat
Kepakkan sayap sayapmu
Cobalah taklukkan dunia

Terbanglah sahabat
Jangan pernah kau menyerah
Gapailah semua anganmu


Story by. Tegar P Kurniawan
inspirasi dari celotehan anak SMA menjelang UN
(Tunjung Sekarwangi, Zanuwar Setia Budi, Yan Adnan Ferindra)

immage source http://www.wallpaperswala.com/wp-content/gallery/flying-birds/flying_birds_in_cloud.jpg

Rabu, 23 Oktober 2013

idul adha dan kehidupan normal gue

"walaupun beratnya sama, daging sapi yang dipekerjakan lebih banyak dari pada daging sapi yang diternakan" - Drs. Slamet Isnaeni

Sebuah kalimat yang insyaallah bisa mengawali postingan kali ini...


Gue beruntung setiap hari raya idul adha gue masih diberi kesempatan buat ngeposting catetan terburuk gue sepanjang sejarah. Kali ini adalah trilogy catetan gue pas ngerayain idul adha. Itu artinya udah tiga kali berturut turut idul adha gue terasa absurd. (#eh iya, ini masi suasana idul adha kan?)

Tapi beda dengan idul adha tahun tahun sebelumnya, idul adha kali ini gue ngerasa biasa biasa saja. Mungkin karena gue udah terbiasa dengan kesibukan gue.

Ngomongin soal kesibukan gue yang selalu menjadi topik postingan gue sebelumnya, akhirnya gue telah terbebas dari segala aktivitas yang gue hadapi. Yup, tepatnya hari minggu kemaren gue udah resmi pensiun dari organisasi Rohis di sekolah yang entah kenapa gue ketuanya. Sebelumnya, gue juga udah keluar dari ngajar pramuka di SD dan organisasi organisasi lain.

Gue sadar gue udah kelas tiga. Kegiatan gue selanjutnya tinggal belajar dan nentuin masa depan, ckck


Mungkin kemarin gue selalu mengeluh tentang apa yang selalu gue hadapi, mengeluh tentang apa yang harus gue lakukan. Tapi disamping itu banyak hikmah yang dapat gue ambil. Gue selalu inget diri gue di masa lalu, saat pertama kali masuk SMA. Gue tuh bukan apa apa di bandingkan sekarang. Gue bener bener di tempa dalam setahun kemarin.

Galau? kata pak bro mario teguh galau tuh normal bagi anak muda. Bahkan beliau bilang jika ada anak muda yang tidak galau, anak tersebut perlu dipertanyakan kenormalannya. Yang terpenting adalah bagai mana kita mencari jalan keluar dari kegalauan hidup kita.

"Berani keluar dari zona aman lo, dan hadapi semua yang ada di depan lo!"

Kutipan dari novel 5cm di atas selalu menjadi inspirasi gue saat gue galau. Di saat saat sulit gue, gue selalu berpikir "apakah gue bisa keluar dari zona aman gue?", di sisi lain hati gue terus meyakinkan "lo pasti bisa gar! lo ga sendiri, masi ada temen temen lo yang selalu siap ngebantuin". Yakin dan konsekuen dengan apa yang gue lakuin adalah kuncinya. Dengan musyawarah segala masalah insyaallah bisa terselesaikan.

Di awal tadi gue udah sampein bahwa seekor sapi pekerja lebih banyak dagingnya dari pada sapi ternak. Sama seperti kita, jika kita terus bekerja dan berusaha menghadapi masalah, maka banyak pula pengalaman yang dapat kita peroleh.

Satu yang gue sadari selama jadi ketua. "Ketua itu ibarat bumi yang selalu di injak injak, tetapi dapat memberi kehidupan bagi anggota anggotanya" - Mas bro Romi

yahh.. mungkin kata "suwun banget lo dab!" belum cukup untuk membayar keikhlasan temen temen selama ngebantuin gue, memberi gue motivasi, dan pelajaran berharga buat gue :'D

Dulu gue pernah bilang pas kita lagi kumpul bareng sama Soni (wakil gue selama ngejabat), "son, keknya suatu hari nanti gue bakalan ngerinduin masa masa kek gini deh..". Memang, masa lalu yang indah membuat kita terus rindu dan memotivasi kita untuk masa yang lebih baik. Dan semuanya akan tambah indah kalo lo jadi diri lo sendiri.. bukan orang lain.


Semangat terus generasi muda, penerus Rohis Al-'azhiim SMA 2 Banguntapan. Sebagai penutup, gue ingin mengutip dari sabda rasulullah SAW "Tinta seorang pelajar lebih suci dari pada darah seorang martir"

note: keknya gue bakalan kembali ke kehidupan gue sebelumnya yang penuh dengan keabsurdan nongkrong berjam jam di WC tetangga.
Okee.. selamat datang kehidupan gue yang dulu (#nelen paket Fisika)

source image:
http://s3.amazonaws.com/readers/2012/02/16/home-sheep-home_1.jpg
http://www.befreetoday.com.au/wp-content/uploads/2013/04/Freedom-Quote.png
http://quotesstack.com/wp-content/uploads/2013/10/freedom-quotes.jpeg

Sabtu, 18 Mei 2013

what's up with responsibility and torture myself

"besok mau pergi?" suara dari arah dapur terdengar lirih di telinga gw, membuat gw tiba tiba meresponya. "apa?" tanya gw balik. "besok mau ijin kemana lagi?" suara yang tadinya lirih seakan menjadi suara halilintar bagiku..

Malam minggu ini gw putuskan untuk menuangkan keseharian gw di blog yang (dulu) biasanya gw lakukan. Percakapan gw sama tante barusan telah membuka suatu masalah yang akan gw bahas di blog kali ini.


Kemarin gw baru saja sembuh dari flu yang telah melanda gw selama seminggu lebih. selama itu juga gw baru sadar betapa berharganya waktu istirahat buat gw. di postingan gw sebelumnya, gw sempet cerita kesibukan yang (hingga sekarang) gw alami. semuanya menguras pikiran dan waktu gw. bahkan menurut gw 24 jam itu belum layak dikatakan sehari.

Gw beruntung telah dibesarkan di keluarga yang sangat perhitungan dengan masalah waktu. Setiap hari sepulang sekolah, kalo gw ada acara ato apa yang membuat gw pulang telat, gw musti SMS tante gw, kalo gak pasti gw dimarahi abis abisan.

Saking seringnya gw SMS minta ijin sama tante gw, sampe sampe suatu hari tante gw ngeduluin gw SMS, "mau ijin kemana lagi gar?". Hal ini yang selalu ngebuat gw jadi gak enak sama tante gw. Tapi gw tau kalo sebenarnya niat tante gw baik, agar keponakan tersayangnya ini gak kecapekan dengan segala aktifitas yang bisa dikatakan hufff... sangat padat.

Tapi, mau bagaimanapun namanya tanggung jawab gak bisa di elakan. biarlah gw dimarahin asal tanggung jawab gw beres.

Berhari hari terus gw jalani dengan berbekal motivasi tadi. setiap hari pulang telat, gw pun jadi sering keluar malem. pelajaran ikut kececer. waktu istirahat hampir tidak ada. dan akhirnya gw pun terbaring lemas.

Dalam sakit gw, gw melakukan instropeksi diri. Gw berpikir dan terus berpikir. Apakah yang selama ini gw lakukan hanyalah memaksakan diri, menyiksa diri sendiri. Apakah itu artinya gw termasuk orang yang menzalimi diri sendiri. Apakah gw salah jika hanya ingin melaksanakan tanggung jawab gw. Apakah salah jika eyang subur nyalonin jadi presiden?? (lho)

Sampe sekarang pun gw masih belum menemukan jawabanya. mungkin eyang udah?? (malah tanya)

Kalo boleh di ibaratin, gw mengibaratkan 'tanggung jawab' adalah sebagai 'istri' gw. Namun sialnya, gw telah berpoligami terhadap 'istri istri' gw. Dan bagaimana cara gw ngejatah 'istri istri' gw, yaitu dengan mendatangi mereka satu persatu (absen) terus gw tinggal tidur di tempat 'istri' gw. Masalah pun beres. wkwkw #DeviLaugh

NB: namun semua istri istri (masih dalam artian tanggung jawab)  gw, membuat gw galau. dan akhirnya beberapa istri gw sudah banyak yang gw cerai. ckck, mungkin ini juga salah gw sendiri, mengapa dulu gw terima ajakan mereka semua. Istri itu memang idealnya cuma satu saja. XD

Minggu, 17 Februari 2013

it's about learning to dance in the rain

"life isn't about waiting for the strom to pass, it's about learning to dance in the rain"


begitulah kutipan terakhir si ridwan yang menginspirasi gw pagi ini. Memang, hidup itu mirip kita waktu kita sedang berteduh di pinggir jalan akibat badai yang sangat deras. kita hanya diberi 2 pilihan, kita hanya berdiam diri dan menunggu badainya reda atau kita terjang badainya dan sampai ke tujuan walaupun kemunkinan resiko pasti ada.

kebanyakan dari kita pasti memilih berdiam diri saja dan menunggu badai yang kita saja tak pernah tau kapan berakhirnya. Itulah logikanya, kita akan lebih aman jika berdiam diri saja di pinggir jalan dan memohon agar badai cepat reda. tapi itu salah. belum tentu kalau kita berteduh di pinggir jalan, kita tidak akan terciprat air. belum tentu badai yang kita tunggu akan reda secepat yang kita harapkan. belum tentu Jupe disetujui kawin sama gaston.

haha, tulisan gw jadi serius. ok, intinya gw cuma mau bilang kalo lebih baik kita hadapi badai itu hingga kita sampai ke tujuan. sapa tau kita malah semakin menjauh dari badai. sapa tau semua orang sedang menunggu kita di tempat tujuan. sapa tau Jupe akan kawin lari sama gaston. Bahkan jika kita menikmatinya, percikan air dalam badai akan terasa mengasyikan. walau jika kita tidak hati hati kita akan terkena flu. tapi perasaan lega itu pasti ada.

akhir akhir ini kesibukan lagi menghantui gw. gw terjebak dalam 3 organisasi yang semuanya ingin gw ada setiap saat.

semua berawal dari temen gw naik sepeda waktu mos dulu sekaligus ketua rohis periode ini, dzaki sabdo pindah sekolah tanpa diketahui banyak orang. semua jadi kacau. akhirnya semua menuduh gw yang harus menggantikanya. mereka mungkin belum tau kalau gw yang jadi ketua semuanya bakal lebih kacau. ckck

selain itu, gw juga tergabung dalam kegiatan kepramukaan. ada 3 organisasi juga yang entah kenapa gw masuki. bermula dari gw ikut dewan ambalan, disusul tergabung dalam Dewan Kerja Ranting, sampai Saka Bhayangkara. dan semuanya sangat menyita waktu gw.

belom lagi gw juga punya band sekolah (yang entah dapat ilham dari mana) dikontrak buat bikin sountrack film di sokolah gw. alhamdulillah, kita telah menyelesaikan 3 lagu buatan kita sendiri. dan akhir akhir ini kita lagi sibuk nyari studio rekaman. 

hari ini saja gw punya acara masang kipas di masjid sekolah, latihan musik, dan di undang acara DKR,. dan semua itu dalam waktu yang sama.. aarh!! gw bingung!!


gw selalu inget perkataan mamet, ketua rohis pendahulu gw, "semua ini tergantung prioritas. mana yang lebih penting, mana yang lebih bermanfaat buat orang banyak, dan mana yang menurut kamu berguna untuk masa depan mu". begitulah cara gw membagi waktu selama ini. tapi semua yang gw pilih pasti ada resikonya. 

gw sadar, everything happen for a reason.. 

semangat pagi,. semoga hari ini menjadi hari terbaik.. dan besok adalah hari libur gw berkat kelas tiga yang lagi ada uji coba.. wkwk



NB: hari kamis kemarin adalah hari dimana gw sama soni, wakil ketua gw, menerjang badai demi membeli konsumsi buat para anggota rohis yang pada buat mading. kita pun kebingungan akan menerjang badai atau berteduh dalam waktu yang lama. kitapun memutuskan menerjang badai bahkan saat itu ada banjir. akhirnya kita pun terkena flu. tapi harus di akui, hujan hujanan ternyata mengasyikan..

Senin, 07 Januari 2013

Tahun bAru Semester bAru


"Orang jaman sekarang sepertinya lebih takut dengan hari senin daripada hari kiamat. Dapat dilihat dari status dan twitnya,hari senin ditakuti tapi hari kiamat diremehin" 


Begitu lah bunyi status di salah satu fan page di facebook yang gw baca tadi pagi. Hari senin sungguh hari yang paling berat, itu yang gw rasakan. libur selama 2 minggu yang mempengaruhi itu semua. biasanya hari hari seperti ini gw habisin buat tidur, santai, nonton film di laptop. jujur hari senin ini ngebuat gw merasa agak asing dengan aktifitas sekolah gw. 


Cukup deh prolog nya,, maap kalo kata kata gw jadi tinggi, hhe. seperti yang udah gw sebutin di atas, hari ini adalah hari pertama gw masuk sekolah setelah libur semester. pasti banyak yang ngerasa deh kalo "2 minggu di hari libur itu, sama dengan 1 hari di hari pertama masuk sekolah (ditambah lagi kalo sekolah lo di planet mars, 1 hari bisa lama banget tuh)", iya kan? Gw ngerasa waktu berjalan cepeet banget.


Liburan kemarin gw nyempetin nginep di rumah kakek selama 10 hari. sekaligus nengok kampung halaman, nengok ayam ayam gw, ketemu sama temen temen SMP dulu, ketemu Ngilma, temen sebangku gw waktu SMP.


Satu yang baru gw ketahui tentang Ngilma, ternyata sekarang nih anak jago banget tawuransama anak STM sebelah. ckck, temen sebangku gw, temen seperguruan, dengan didikan yang sama dengan gw, ternyata udah jauh berkembang pesat jauh dari gw. sedangkan gw, gw cuma cupu yang tiap pulang sekolahnya langsung mantengin laptop sambil main game. sungguh ironi sekali #nabur kembang


malem taun baru kemarin, gw mutusin buat nginep di rumahnya ngilma sambil bawa laptop. Dengan motor milik kakek gw (yang lampu depannya ternyata mati), gw ujan ujan nelusuri jalan jalan desa yang dingin (dan gelap). sampainya di sana, gw disuguhi makanan yang entah kenapa terasa nikmat pada malam itu. mungkin karna gw belum makan, ckck. abis itu kita (gw sama ngilma) ditambah Udin (temen ngeband gw waktu SMP) nonton film sampe hampir subuh di kamarnya yang lebih mirip gudang di atas loteng (lah, emang iya), hingga akhirnya kita pun tertidur.

hari sebelumnya pun gw sempet jalan jalan ke daerah Ketep, kaki gunung merapi, sama temen main gw waktu SMP si Ridwan. Satu yang gw saranin kalo ke tempat ini naik motor, elo kudu nyiapin duit buat bayar parkiran motor lo. jangan kayak si Ridwan, parkir aja ngutang, iya gak nyil?



haahh... gw lega akhirnya kemarin ga jadi kiamat. yang masih gw bingungin tuh kalender bangsa maya sekarang jadi tahun berapa ya? masa ngulang jadi tahun 1. wkwkw ada ada aja..

ok deh, sebagai epilog, gw cuma mau ngucapin selamat tahun baru 2013. sori kalo agak telat. dan makasih buat yang udah baca blog gw yang ga ke urus ini :*